Wednesday, February 6, 2019

Pengaruh Korean Wave Terhadap Kehidupan Remaja Indonesia


Pengaruh Korean Wave dalam Kehidupan Remaja Indonesia

Remaja Indonesia, memiliki keunikan dalam hal mempelajari sesuatu. Dengan kecenderungan pola imitasi (peniruan) yang cukup tinggi, maka tak heran ketika arus globalisasi membukakan pintunya terhadap Korean wave, khususnya K-Pop di kalangan remaja, menimbulkan pengaruh yang sedemikian besar.  Adaptasi yang dilakukan pun menjalar ke berbagai aspek kehidupan pada sebagian kalangan remaja. 

Sebenarnya, Korean wave memang menjadi fenomena yang mendunia sejak awal tahun 2000. Tak terkecuali pada Bangsa Eropa, yang secara budaya juga memiilki kekhasan ciri dan prinsip yang kuat. Namun memang tak dapat dipungkiri, bahwa daya tarik (appeal) yang dimiliki Korea ini memang memiliki energi yang luar biasa, sehingga pengaruhnya begitu kuat, apalagi dengan proses penyebaran yang lembut serta menempati area stategis (dunia  remaja) melalui media hiburan terutama. Entertainment, sebagaimana dalam kehidupan kelompok usia lain, adalah sebuah media yang paling strategis dalam menebarkan “pesan” dan memengaruhi pikiran audiens.

Secara umum, kehadiran K-Pop yang masuk melalui berbagai media (terutama internet), telah menghadirkan beberapa perubahan pada kehidupan remaja generasi 2000-an khususnya. Mengapa internet lebih diminati, tentu sederet alasan kuat seperti ekonomis, praktis, dan menyajikan informasi yang lebih bervariasi serta ter-update menjadi pertimbangan utama. Terutama di kalangan remaja, yang tak lepas dari sarana gadget, yang membuat segala informasi cenderung mudah diakses secara real-time. Aspek-aspek kehidupan remaja yang mengalami perubahan antara lain:

1. Standar selera penampilan fisik
Kehadiran sosok-sosok idola baru yang ditampilkan melalui dunia entertain khususnya K-drama dan K-Pop yang muncul beriringan, senyatanya telah membuat tipe selera remaja mengalami pergeseran. Ini tidak terlepas dari daya tarik (appeal) yang dimiliki oleh artis Korea yang energik dan memiliki ciri fisik yang cenderung menarik, khususnya bagi kalangan muda. Kulit putih, mata bundar dengan kelopak mungil, rambut dengan warna lembut, tubuh langsing enerjik menjadi figur ideal bagi penampilan seseorang. Dalam dunia perfilman, dengan pemilihan tema cerita yang realistis dan dekat dengan problematika masyarakat umum, perasaan audiens menjadi lebih dibuai, apalagi ditambah dengan penyajian karakter yang sangat menjiwai peran dalam dunia acting. Sedang dalam industri musik yang lebih banyak berkembang dalam kelompok usia remaja, penampilan mereka didukung oleh keseriusan mereka dalam meningkatkan kualitas vokal serta tarian (dance) dengan gerakannya yang penuh energi. Kesemua ini membuat daya tarik para artis tersebut kian memendar.

2. Selera musik (genre)
Perkembangan industri musik Korea, khususnya K-Pop, yang cenderung terus menambah speed-nya dalam peningkatan kualitas dan penyebarannya, memang menjadikannya cepat meraih kesuksesan dan merambah dunia internasional, termasuk Indonesia. Dengan prosentase artis terbanyak dari kalangan remaja, maka proses distribusi menjadi kian lebih mudah dalam hal penetrasinya, karena kecenderungan remaja menyukai hal-hal baru yang menantang. Apalagi figur artisnya secara fisik juga memiliki kesan indah dan unik.

3. Sikap dan Perilaku (self-care, gaya komunikasi, aktivitas bersosial media)
Remaja, dengan kecenderungan mulai memberi perhatian pada penampilan fisik karena fase pubertas dan pencarian eksistensi diri, mulai memunculkan hasrat untuk mencoba memaksimalkan kesan dirinya. Artis-artis Korea yang berhasil menebarkan pesona keindahannya, senyatanya telah menjadi sumber inspirasi bagi kalangan remaja yang cukup memiliki kecenderungan mengedepankan penampilan fisik. Perhatian mereka dalam hal perawatan kulit banyak terinspirasi oleh cara-cara remaja Korea merawat dirinya. Hal ini terbukti dengan semakin maraknya produk-produk perawatan kulit ala Korea disajikan oleh pasar. Selain inspirasi daya tarik fisik, remaja Indonesia juga banyak mengadaptasi gaya komunikasi remaja Korea dengan simbol-simbol gerakan tangan. Sebagaimana dengan perubahan perilaku dalam dunia nyata, remaja Indonesia juga menampakkan perubahan pola perilaku dalam dunia maya. Pergaulan mereka banyak tergeser ke dalam komunitas-komunitas fandom dan memperlihatkan intensitas penggunaan internet agar mereka senantiasa ter-update, alias tak ketinggalan berita baru. Kekinian, bahasa populernya. Ini tentu akan menimbulkan banyak konsekuensi logis dalam hal sosialisasi, baik positif maupun negatif. 

4. Life-style (fashion, kuliner, bahasa)
Tren busana merupakan salah satu aspek yang juga cukup terdampak oleh Korean wave. Ini merupakan bentuk adaptasi yang paling mudah dijalankan, karena tidak melibatkan kemampuan kognitif seperti halnya berbahasa. Persaingan dalam hal harga juga membuat barang-barang konsumtif ini mudah dijangkau. Dalam hal tren busana, pengaruhnya tidak sedalam pengaruh terhadap selera fisik. Ini mungkin dikarenakan secara budaya, Indonesia memiliki banyak kiblat yang menjadi sumber inspirasi, dan juga masih banyak remaja yang memiliki konsep diri tak tergoyahkan, entah itu berbasis akhlak atau prinsip serta selera individu dalam berpenampilan. Dalam hal kuliner, pengaruh cukup terlihat pada gaya makanan dan minuman yang semakin marak tersaji dalam konsep penganan ala Korea. Hal ini terlihat dalam merebaknya kemunculan resto ala Korea hingga makanan instan yang tersaji di berbagai pasar lokal. Pengaruh  Korean wave dalam hal bahasa juga nampak dari semangat para remaja memelajari Bahasa Korea dan meningkatnya lembaga kursus Bahasa Korea di Indonesia.

5. Pengetahuan (cenderung mengalami rasa ingin tahu tentang Korea lebih dalam)
Semangat imitasi remaja terhadap budaya yang dibawa oleh remaja Korea tampaknya juga menciptakan rasa ingin tahu yang berkembang. Keingintahuan remaja tentang latar belakang budaya sang idola tak jarang mendorong mereka untuk berupaya mengenal Negara Ginseng ini lebih dalam, bahkan hingga menjadikan Korea sebagai salah satu destinasi wisata yang dicita-citakan. Hal ini memberi berbagai dampak yang tentunya lengkap dengan konsekuensinya. Bertambahnya pengetahuan melalui pencarian informasi serta perjalanan wisata tentunya juga menjadi hal positif sejauh hal ini tidak diikuti dengan pola hidup konsumtif yakni mengikuti hasrat untuk mengimitasi terlalu banyak budaya mereka.

Perkembangan  Korean wave di Indonesia sangat pesat dengan adanya media sosial yang cenderung tak memiliki batas ruang dan waktu. Perkembangan ini juga tidak terlepas dari faktor geografis Indonesia yang masih berada dalam wilayah Asia, sehingga penetrasi budaya tidak menimbulkan kontras yang ekstrim. Selain itu, faktor psikologis remaja yang senantiasa mencari hal baru, tantangan serta pembentukan identitas membuat remaja senang mencoba sesuatu yang unik. Seberapa jauh perubahan atau adaptasi yang dilakukan oleh remaja ini, dipengaruhi oleh konsep diri yang dimiliki oleh masing-masing individu. 

Tuesday, December 4, 2018

Anak Highly-Sensitive, Ada Apa Di balik Kehadirannya?

Sekian tahun, ruang maya ini sepi.

Kalau mau dicari-cari, tentu ada saja alasannya. Sibuk pekerjaan lah, sibuk urusan anak yang begini begitu lah, sibuk urus mama yang sakit, dan terus ada saja berbagai hal yang bisa menjadi alibi.

Kenyataan memang ya, namun lebih tepatnya, saya telah kehilangan semangat menulis selama beberapa waktu. Kenapa? Tidak punya bahan? Tidak juga. Tak akan pernah hilang bahan bakar untuk dipantik menjadi sebuah tulisan yang menggairahkan. Namun, ketidakcanggihan saya saja dalam hal mengelola waktu dan pikiran. Selama ini, saya selalu membangun barrier yang membatasi kemampuan diri. Saya meyakini bahwa otak tidak bekerja multi-tasking antara tugas menggambar dan menulis. Jadi ketika saya sedang banyak pekerjaan mendisain landscape, maka spirit menulis saya seperti terbekukan. Wallahu alam. Karena sekarang memang kebetulan saya sedang mempunyai jeda waktu juga, hehehe...

Ini tentang anak.
Sepuluh tahun usiaya tahun ini. Namun saya merasa, saya belum melihat beberapa milestone penting dalam pertumbuhan pada dirinya, di beberapa hal. Sederhananya saja, jika diproyeksikan dengan standar usianya.

Saya paham, tidak ada standar khusus, dan satu solusi yang berlaku sama untuk semua anak. Karena sejatinya, setiap anak adalah unik, setiap anak adalah istimewa. Termasuk kedua anak saya, tentunya. Namun kadang, kata istimewa ini bisa berubah menjadi sebuah label bertanda kutip "istimewa", manakala ada hal-hal yang tidak sejalan antara ekspektasi dengan realita. Bukankah begitu Mam?

Yah.. jujur saja, ini yang sedang saya rasakan, saya alami. Si Bungsu, hingga saat ini, masih saja tidak senang dengan sekolah. Apakah karena sekolahnya tidak tepat? Entahlah, saya tidak punya ukuran tat ke sekolah dengan semangat yang datang dari dalam dirinya. Adakah kendala di sekolah? Ini pun sudah berjuta kisah bergulir. Baik itu kisah yang benar-benar terjadi, ataupun kisah-kisah fiktif ciptaannya. Pokoknya, saya sekarang merasa, banyak sekali perubahan pada dirinya sejak sekolah, baik yang ke arah positif, maupun negatif. Karena di setiap tahun ajaran, ada saja kejadian dia "tersandung" trauma. Entah itu oleh sikap guru, sikap teman, materi akademik, atau kejadian luar biasa yang membangkitkan kepanikan massal seperti gempa bumi.

Sejauh saya mengenali  Si Bungsu, dia adalah anak yang sangat baik. Sisi hatinya yang lembut bisa membuat luruh dinding hati saya jika sedang membeku kronis. Namun di sisi lain, dia adalah anak yang juga sulit mengendalikan emosi (ini mirip saya, sepertinya hehehe). Jika marah, bisa meledak-ledak. Tapi dia hanya mampu marah kepada saya, apapun dan siapapun penyebab kemarahannya. Selalu saya yang harus menjadi tempatnya melampiaskan emosi. Atau kadang, tapi jarang, kepada kakaknya yang perempuan. Sedih kan? Jadi, dengan begitu banyaknya pemicu kemarahan yang kadang saya belum pahami, saya sudah menjadi "stres-ball" yang siap menerima terpaan badai emosinya. Untungnya, seiring bertambahnya usia, badai itu sedikit demi sedikit menurunkan intensitasnya. Mungkin karena ada proses kesadaran yang berkembang.

Sejak awal perjalanan sekolah (TK), hingga saat ini (SD kelas 4), begitu banyak kisah yang bisa saya ceritakan. Namun untuk menjaga agar tulisan ini tetap dapat dinikmati, dan mudah juga bagi saya meninjaunya kembali, saya akan membagi kisah-kisah tersebut dalam beberapa tema. Kali ini adalah tentang Hyper-sensitivity pada anak, yakni yang dialami anak saya khususnya.

Berawal dari sebuah kejadian kecil di sebuah rumah makan dalam Rest Area KM 97. Saat kami beristirahat dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, kami berhenti untuk makan siang. Kami sedang duduk, makan berempat. Tiba-tiba masuklah serombongan ibu-ibu beretnis Batak, berbicara seru dengan nada yang menurut kami, ya normalnya Orang Batak. Tak disangka, tiba-tiba si Bungsu yang waktu itu berusia sekitar tiga tahun menjadi pucat, berlari keluar lantas menangis dan meminta kami segera pulang. Dari sudut matanya, kami menangkap ada ekspresi ketakutan. Rupanya para ibu-ibu tadi itulah sumbernya. Hahaha, sebenarnya kami geli. Tapi kami tahan sambil berupaya menjelaskan, bahwa mereka bukan sedang marah-marah, melainkan memang timbre (warna) suara Etnis Batak memang seperti itu. Tapi tak ada gunanya. Mungkin suara (yang terdengar olehnya) keras terlanjur melukai hatinya. Ya Tuhan... dia se-sensitif ini kah? Tanya kami bertiga saat itu. Kami juga cukup kaget dibuatnya. Tapi kami jadi belajar.

Salah Duga

Dengan beberapa peristiwa serupa yang terulang, tentu kami mempunyai dugaan, bahwa anak saya sensitif terhadap suara. Auditory-sensitive, meminjam istilah kawan saya di facebook pada suatu hari. Hingga suatu hari, karena sensitivitasnya yang sudah cukup mengganggunya, kami memutuskan untuk berkonsultasi dengan Psikolog. Karena, pada kasus terakhir, agak aneh. Traumanya bukan dipicu oleh suara, namun oleh ilustrasi buku. Jadi cenderung visual, bukan auditori. Hasil observasi menunjukkan, ternyata dia cenderung visual. Sebuah ilustrasi buku yang menurutnya begitu mencekam dan mengisyaratkan sebuah terorisme atau kekejaman telah membuatnya cukup lama mogok sekolah. Pasalnya, buku itu adalah salah satu koleksi buku sekolah, yang kebetulan dipajang di rak buku kelasnya. Walhasil, ketika pun dia bersedia berangkat ke sekolah, kondisinya sangat bersyarat. Saya harus mengantarnya hingga ke depan kelas. Dan sebelum ia masuk, saya harus memastikan bahwa guru walikelas nya telah benar-benar menyingkirkan buku itu dari rak buku kelas. Setelah saya pastikan tak ada, baru ia masuk ke dalam kelas. Luar biasa. Ternyata rumit sekali memiliki anak yang highly-sensitive. Dan menurut psikolog, bagi anak-anak sepertinya, ilustrasi yang terlalu ekstrim juga dapat berdampak negatif, dan cenderung berbahaya, karena anak-anak seperti ini cenderung mengembangkan imajinasinya.

Highly-Sensitive Ternyata Ada Hikmahnya

Di balik kerumitan yang kami rasakan, dimana kami harus selalu berhati-hati dalam proses tumbuh kembang anak kami, ternyata perlahan-lahan kami menemukan banyak sekali hikmah dan manfaat. Khususnya bagi kami, orangtuanya. Seiring dengan berjalannya waktu, sensitivitas anak saya semakin mudah terlihat polanya. seiring berjalannya waktu, kami semakin banyak belajar dari kondisinya. Sensitivitasnya, ternyata begitu halus. Dia tidak hanya peka terhadap suara yang jangkauan frekuensinya jauh di atas rata-rata, namun juga peka terhadap segala stimulan yang diterima, termasuk pilihan kata-kata. Dan piala penghargaan prestasi dalam bidang bahasa (ketika lulus TK) menjadi saksi sekaligus bukti kepekaannya ini.

Adalah suatu malam, ketika seperti biasanya, dia menelungkupkan badannya, meminta ayah menggaruki punggungnya sebagai ritual pengantar tidur. Sambil menggaruk, ayah mengeluhkan sikap anaknya yang hari itu bolos sekolah (lagi). "Mas, hari ini kamu bolos lagi ya? Ayah kecewa deh. Besok-besok kalau kamu nggak masuk lagi, ayah nggak mau nggaruki punggungmu lagi ah". Kalimat yang dimaksudkan agar anaknya tergerak untuk berubah ini, alih alih mencapai tujuannya, justru menjadi bumerang. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, anak kecil itu hanya mengacungkan ibu jari dengan posisi terbalik, menghadap ke bawah. Kami berdua pun sontak saling berpandangan. "What's wrong?" pikir kami. Dalam hati kami berupaya keras mengintrospeksi diri. Mungkin pesan yang dimaksudkan memotivasi (menurut versi kami), diterima sebagai sebuah bentuk ancaman. Duh, hanya salah bahasa ternyata. Kami salah memilih kata-kata!

Keesokan paginya, saat si bungsu telah rapi berseragam dan siap berangkat ke sekolah, meski masih jauh dari kata tepat waktu kami tetap berupaya memberi apresiasi. Sebuah kalimat meluncur dari mulut ayah "Naah, gitu dong. Anak ayah keren! Kalau kamu semangat sekolah, ayah juga semangat tiap malam ngeloni kamu sambil menggaruki punggungmu". Wajah yang ceria itu semakin menampakkan sumringah, dan lengannya dinaikkan seraya memutar arah ibu jari yang awalnya diacungkan ke arah bawah. Ya Tuhan... Benar ternyata. Tadi malam kami telah melakukan kesalahan dalam berkomunikasi. Sedemikian pekanya ia terhadap kata-kata yang kami ucapkan!

Pengalaman pagi itu telah membuat kami takjub, betapa kami sebagai orangtua harus sangat berhati-hati dalam melakukan tindakan apapun. Sosok hyper-sensitive ini senyatanya telah diturunkan Tuhan sebagai pengingat bagi kami berdua, bahwa ada makhluk kecil yang senantiasa memerhatikan kami, dan belajar tentang kehidupan melalui sikap kami. Sementara bagi kami, kehidupan telah memberi kami pelajaran, melalui kehadiran buah hati kami yang "istimewa" ini.





Tuesday, December 9, 2014

Tentang Perjalanan Kak Dhyani

Tak bisa lepas dari ingatan. Masa-masa Kak Dhyani kecil. Bersekolah di Taman Kanak-kanak.
Begitu cerianya. Dan menggemaskan. Senyum yang indah dan pancaran mata yang berbinar bagaikan sesuatu yang magnetis yang membuat saya selalu rindu memeluknya dan menikmati senyumnya. Lebih dari itu, bagi saya, dia adalah sosok anak yang sangat istimewa. Bukan karena dia pandai dalam segala hal. Melainkan karena dia adalah sosok yang sangat sabar dan pemaaf. Tak peduli seberapa keras saya bersikap kepadanya, tetap dia menunjukkan sayangnya yang begitu dalam pada saya. Sungguh menjadi pengingat dan sumber inspirasi kebaikan bagi saya, terlepas dari kekurangan-kekurangan wajar yang dimilikinya sebagai anak-anak.

Sebuah pengalaman yang bisa saya ingat terus hingga saat ini adalah, ketika semasa TK A, gurunya sering sekali menyampaikan kepada saya, bahwa Dhyani tidak menyelesaikan tugas mewarnai. Satu lagi, adalah Dhyani tidak pernah mau bila diminta bernyanyi di depan kelas. Hmm... rasanya, memang tidak lumrah ya, buat seorang anak TK, yang biasanya justru senang sekali, bahkan bisa berebut dalam urusan tampil di depan kelas. Demikian pula dalam hal kegiatan mewarnai. Tak terlihat sedikitpun minat dan antusiasmenya. Dari setiap laporan yang disampaikan, hanya dari sisi akademik (kecerdasan linguistik baca-tulis dan komunikasi verbal, juga matematis) serta nilai kecerdasan sosialnya yang dikatakan menonjol. Yah, apapun itu, saya sangat bersyukur.

Di masa TK B, terjadi sedikit kemajuan. Bergantinya pemilik dan pengelola sekolah menjadikan saya bisa ikut terlibat dalam menentukan arah pendidikan di TK itu. Dan sebagai wujud nyatanya, lahirlah kegiatan drum band. Setidaknya, hal ini menjadi penyeimbang dalam aktivitasnya, seperti yang saya bayangkan. Mengapa saya merasa perlu menghadirkan unsur musik dalam aktivitas kesehariannya? Hal ini tak lain adalah karena sejak kecil, kak Dhyani memperlihatkan kemampuan musikal sederhana, yaitu sangat peka terhadap nada. Dan sejauh yang saya tahu, musik itu memiliki banyak sekali manfaat. Oleh karena itu, sebelum TK, dia saya masukkan dalam sebuah sekolah pengenalan musik, walau lokasinya sangat jauh dari rumah. Bukan untuk orientasi menjadikan dia seorang artis ataupun orang terkenal. Bukan. Saya hanya ingin  menjaga keseimbangan dalam proses tumbuh kembangnya, sekaligus memberikan wadah sosialisasi yang nyaman dan sesuai dengan tahapan usianya. Kursus pengenalan musik ini berjalan kurang lebih selama 2 tahun. Setelah itu, ada program lanjutan, yang sayangnya tidak bisa dilanjutkan karena saya melahirkan adiknya. Tak tega rasanya melepas kak Dhyani pergi les sejauh itu hanya berdua dengan ayah, naik sepeda motor. Jarak Cibubur-Cilandak memang terasa relatif jauh dengan situasi kami ketika itu.

Lulus TK B, Dhyani tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dalam bidang-bidang yang dia pelajari. Di tahun pertama dan kedua Seklah Dasar (di sekolah yang dipilihnya sendiri), ia tetap menunjukkan prestasi menonjol dalam bidang akademik. Bahkan beberapa kali sempat mewakili sekolah dalam berbagai lomba calistung (alhamdulillah, tidak menang, hehe...). Jujur, saya koq merasa ada sedikit perasaan tidak tega padanya. Karena setiap mau lomba, pasti ada aktivitas tambahan yang tak sedikit membutuhkan energi ekstra. Apakah anaknya menikmati? Wallahu alam. Yang saya lihat sih, dia agak kurang sepenuh hati.

Di tahun ketiga dan keempat, terjadi sedikit perubahan. Keikutsertaannya dalam kegiatan ekstrakurikuler Paduan Suara dan Melukis menjadikannya sedikit menyukai aktivitas seni, dan memperlihatkan peningkatan dalam keberanian. Ya. Alhamdulillah, rasa percaya dirinya terlihat berkembang. Di masa ini, sebuah peristiwa besar dia alami. Sepulang sekolah, dia mengatakan bahwa dia, bersama seorang teman sekelasnya, telah lolos audisi tim Paduan Suara untuk sebuah kompetisi di Ghuang Zou, Cina. Saya sempat kaget. Bagaimana bisa? Sedang dia masih sangat baru belajar di Paduan Suara ini. Hati saya juga campur aduk rasanya, membayangkan jarak yang begitu jauh. Sementara saya tidak pernah bisa terpisah jauh dan lama, lebih dari urusan sekolah. Namun untunglah, ternyata setelah itu masih ada satu tahap audisi lagi yang harus diikuti, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Bukannya saya mengharapkan anak saya gagal dalam audisi ini. Tapi saya benar-benar tak punya kesiapan. Seandainya pun saya sanggup melepaskannya, masalah lain tergambar. Keuangan. Wah, saya benar-benar memohon yang terbaik saja saat itu. Dan Tuhan memang perencana yang Maha Sempurna. Audisi tahap keempat tidak berhasil dilalui karena bahkan kami pun tak bisa membantunya berlatih di rumah, karena materi yang memang begitu berat. Lagu Scareborough Fair, adalah lagu yang judulnya saja bahkan terasa asing di telinga kami. Apalagi menyanyikannya.

Keputusan pelatih ternyata meninggalkan sedikit perasaan kecewa pada Dhyani, walau pada akhirnya ia juga bisa menemukan hikmah di balik peristiwa ini. Di luar dugaan, dia malah meminta dimasukkan kursus vokal di tempat yang memberi kesempatan kelas percobaan gratis (free trial), KBL di Kawasan Cibubur. Teringat sebuah pesan yang pernah ditulisnya di atas selembar kertas yang kami simpan selalu, selepas berhenti les pengenalan musik, kami berusaha meluluskan permintaannya. Pesan itu berbunyi "Bu, sebenarnya aku tidak ingin berhenti les musik", dengan tulisan tangan anak TK yang sangat polos, namun tak terkesan memaksa, apalagi menuntut. Lima tahun penantian dengan kesabaran atas kesempatan ini, telah waktunya menuai buah manis.

Singkat cerita, sejak saat itu (kelas 5), minat dan prestasinya di bidang seni meningkat, mengimbangi bidang akademiknya. Plus, disertai peningkatan dalam bidang komputer dan motorik, plus menggambar. Dan sebagai konsekuensinya, dia sempat mengalami penurunan prestasi dalam bidang akademik di kelas 5. Tidak masalah bagi saya, selama dia masih memiliki semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi dalam bidang apa saja. Lagipula, saya bersyukur, dengan semangat berkembangnya di dunia seni yaitu menggambar dan tarik suara, saya mulai melihat sebuah potensi di kedua bidang ini. Hal yang di masa kecilnya (TK) tidak sama sekali bisa muncul. Everything comes at the right time.

Kisah berjalan biasa saja pada enam bulan awal Dhyani belajar vokal. Hanya memang dia sempat menolak ketika diajukan ikut audisi khusus dalam sebuah kompetisi ajang bakat vokal berlevel nasional untuk anak, Indonesian Idol Junior oleh pengelola kursus vokalnya. Alasannya tak lain adalah belum berani. Tak masalah bagi saya. Sebab keberanian itu bukan hal yang patut dipaksakan, tapi muncul dari dalam diri sendiri, atau dari inspirasi atas pengalaman orang lain yang dilihatnya. Namun selang beberapa waktu, tiba-tiba dia minta diizinkan mengikuti audisi reguler (tidak melalui sekolah vokalnya). Aneh ini. Ternyata setelah saya selidiki, audisi ini ditunggangi oleh kepentingannya bertemu dengan seorang temannya dari dunia maya. Okelah, bersyukur saya kenal dengan semua temannya. Jadi keinginannya saya luluskan, apalagi dengan pertimbangan kami mengantarnya. Tapi tak disangka, audisi itu ternyata tidak berhasil mempertemukan Dhyani dengan temannya. Jadilah dia "terlanjur" menjalani audisi sampai tahap pre-cast final. Tahap yang mengharuskan Dhyani menyanyikan lagu Indonesia. "Susah", tuturnya. Ya, saya memahami, karena Dhyani memang lebih menikmati lagu-lagu barat ketimbang lagu-lagu Indonesia. Sangat bertolak belakang dengan adiknya, yang seleranya sangat melayu. Sekali lagi kami berpikir, ada hikmah dan pelajaran di balik setiap kejadian.

Di kelas 6, prestasi akademik Dhyani kembali merangkak naik, seiring kegembiraan suasana hatinya karena sepertinya dia mulai menemukan self-existence di dunianya, baik nyata maupun maya. Kegemarannya menggambar, telah mengantarkannya menjadi seorang ilustrator cilik. Semakin dia merasa bangga atas keaktifannya, semakin tinggi pula semangat belajarnya. Ternyata oh ternyata... Dan salah satu momen yang paling membuatnya bangga, adalah ketika tiga minggu menjelang UAS, dia mendapat permintaan membuat gambar untuk puzzle edukasi anak, dari Kak Idzma Mahayattika, pendiri Kidzsmile Foundation. Luar biasa gembiranya dia mengerjakan gambar ini, meski di tengah kondisi sakit, gangguan pencernaan. Ternyata, passion bisa mengalahkan hambatan. Luar biasa.

Dua hari setelah itu, saya dikejutkan oleh tawaran pihak pengelola les vokalnya, untuk mengikuti audisi dalam sebuah ajang kompetisi bertaraf internasional. Kaget bukan main saya. Bukan karena saya meng-underestimate kemampuan anak saya sendiri. Akan tetapi, menurut saya, terlalu cepat rasanya. Saya merasa dunia bagai terbalik, apalagi kalau ingat bagaimana Dhyani semasa kecil, di TK khususnya. Di rumah, dia memang suka bernyanyi. Tapi sangat tidak suka bila menjadi sorotan. Jadi sepertinya jelas, di sini lah akar masalahnya. Dia kurang percaya diri bila berada di depan audiens (genetis dari saya nih sepertinya, hahaha...). Tapi, sekali lagi, tawaran itupun kami kembalikan kepada kak Dhyani. Dia sempat ragu dan tak percaya. Tapi dia terlihat penasaran. Jadilah dia mendaftarkan diri dalam ajang ini. Ada kesempatan berlatih sekitar 2 minggu, atau dua kali pertemuan berlatih dengan guru penggantinya (guru kak Dhyani sedang cuti melahirkan).

Sebelum latihan dimulai, atas saran suami, saya mencoba berkumonikasi dengan guru pengganti tersebut, guna meminta arahan bagi kak Dhyani, mengingat kami sangat awam dengan ajang pencarian bakat seperti ini. Tersebutlah dua judul lagu, yang menurut informasi beliau, menjadi standar penilaian dalam acara ini. Pertama adalah "Problem" yang dinyanyikan oleh Ariana Grande (penyanyi yang ini sih selera Dhyani banget, hehe...). Lagu ini memang keren menurut saya. Enerjik, namun butuh stamina tinggi, karena bukan hanya penuh dengan nada-nada tinggi, namun juga beat atau iramanya cepat. Lagu kedua adalah "And I'm Telling You", yang dinyanyikan oleh Jennifer Hudson. Waduh, kalau yang ini saya sama sekali tak paham. Sang guru pengganti menyarankan saya mencarinya di YouTube. Dan apa yang kami dapat benar-benar membuat kami pusing. Lagu apa ini? Pikir saya saat itu. Sama sekali tidak easy listening. Jangankan menikmati, memahami ritme dan alurnya saja kami tidak berhasil. Dhyani pun sempat ragu. Tapi, dia pantang menyerah. Dicobanya mendengarkan lagu tersebut berkali-kali. Tak disangka, dia malah menyukainya, dan bersikeras memilih lagu ini. Giliran saya yang bingung. Membayangkan betapa berat latihan yang harus dia lakukan. Hanya ada dua kali kesempatan, dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi bagi kami.

Waktu dua minggu berjalan sangat cepat. Saya kasihan juga melihat Dhyani yang hanya bisa berlatih di kelas vokal saja. Latihan di rumah hanya akan menimbulkan keributan dengan Damar, adiknya yang tidak bisa mendengar suara berfrekuensi tinggi. Kak Dhyani benar-benar mengalah. Sempat saya mendengar saat dia berlatih di kelas. Dengan waktu yang sangat sempit, yaitu 40 menit per pertemuan, sakit perut rasanya mendengar kakak "digeber". Tapi suami selalu menenangkan saya dengan  mengatakan "anaknya menikmati koq". Ya juga sih, ini memang bagian dari konsekuensi atas pilihannya, kendatipun pihak pengelola kursus vokal memberi keleluasaan memilih lagu lain bila belum sanggup lagu yang disarankan. Tapi Dhyani terlihat nyaman dengan pilihannya.

Masa latihan berakhir. WCOPA, demikian nama ajang pencarian bakat yang merupakan kependekan dari World Championship of Performing Arts, berlangsung sehari menjelang UAS. Saya benar-benar pasrah. Melihat kelelahannya yang memuncak di hari itu, tak sedikitpun saya meyuruhnya belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi UAS. Toh, dia juga tak terbiasa disuruh. Belajar di saat dia ingin, meskipun itu juga jarang dilakukan. Dan saya benar-benar tak sampai hati bahkan untuk menambah ketegangan dengan mengingatkan UAS di keesokan harinya. Bismillah saja deh...

Di penghujung bulan yang cukup melelahkan itu, Dhyani mulai memperlihatkan kegelisahannya. Dimulai sejak siang hari menjelang audisi. Tiba-tiba dia merasa tidak yakin. Sempat meminta agar audisi dibatalkan. Saya katakan bahwa membatalkan bukanlah pilihan yang bijak. Sebab bisa mengecewakan guru yang sudah melatihnya (walau hanya dua kali pertemuan). Dhyani pun sepakat untuk tetap maju, demi menghargai usahanya dan juga gurunya, meski wajahnya sudah nampak tegang dan ragu. Detik-detik menjelang perform menjadikannya semakin panik. Di belakang panggung bahkan dia sempat mengatakan lupa, bingung nada dasar dan berbagai keluh kesah mencerminkan ketegangan yang dirasakannya.

Ketika namanya dipanggil, dia sempat mengerang dengan wajah sedih dan tegang. Spontan kupeluk dia sambil mengatakan "Kakak bisa. Ayo, gunakan improvisasi. Selamat berjuang ya sayang". Perlahan kulepas pelukan, dan dia melangkah menuju panggung, menaiki tangga. Kuberi lambaian tangan dan senyuman. Musik pun mulai terdengar. Disusul dengan suara kak Dhyani. Saat suara bulat dan penuh mulai keluar dari mulutnya, berangsur-angsur ketegangan di wajahnya memudar. Rasanya, saya seperti sedang melihat sosok yang berbeda (jauh sekali dibandingkan beberapa kali perform sebelumnya). Bait demi bait mengalir. Lantunan suaranya semakin meyakinkan. Saya merinding. Takjub. Riuh teriakan para audiens pun bahkan tak membuatnya kikuk. Alhamdulillah... saya sungguh tak percaya. Di nada tinggi yang sempat ia ragukan, dia gunakan sebagai kesempatan berimprovisasi. Semakin lama ekspresinya pun semakin santai, tenang dan percaya diri. Lagu pun ditutupnya dengan improvisasi yang membuat kami cukup terpukau. Turun dari atas panggung, Dhyani disambut dengan tepuk tangan meriah dari para audiens, serta apresiasi luar biasa dari pengelola kursus vokalnya.

Kusambut dia dengan pelukan dan ucapan selamat. Selamat atas kemenangan  yang istimewa. Kemenangan bukan atas kompetisi mengalahkan peserta lain, melainkan atas keberhasilannya melalui hambatan dalam diri sendiri, menghalau rasa takut dan ragu. Soal terpilih atau tidak? Itu adalah kelanjutan saja dari perjuangannya. Bila terpilih berarti perjuangan berlanjut menjadi kerja yang lebih keras, sedang bila tidak terpilih, berarti tetap harus semangat belajar, dan sebagaimana kesempatan ini datang padanya, ada hikmah besar dan rahasia Tuhan di balik semuanya. Yang jelas, apapun yang terjadi, selalu ada pelajaran yang bermakna untuk dipetik. Insya Allah...

Friday, April 11, 2014

Sekolah dan Sekolah Kehidupan

Ini kisah tentang perjalanan hidup saya sebagai ibu, pada fase mengantar anak-anak saya, Dhyani dan Damar menuju gerbang pendidikan formal sebagai salah satu bekal hidupnya. Sekolah, yang senyatanya bukan hal sederhana bagi sebagian orang dalam memilihnya.

Perjalanan dimulai ketika kak Dhyani jelang tamat masa bermain dan belajar di TK, yang saat itu kami pilihkan di lingkungan sekitar rumah karena kami baru saja pindah tempat tinggal. Ketika itu, informasi sekolah juga masih sangat minim. Jadi, yang terpenting bagi kami adalah memilihkan TK sebagai sarana bersosialisasi yang cukup aman, nyaman dan menyenangkan bagi kakak. Untungnya ada. Alhamdulillah sangat dekat, hanya berjarak 50 m dari rumah. Jadi bias dijadikan sebagai sarana kakak belajar mandiri tanpa rasa khawatir.

Periode yang cukup menyita energy adalah ketika kak Dhyani mengakhiri masa TK, dan kami mulai melakukan survey ke beberapa SD yang secara geografis lokasinya masih masuk akal dari tempat tinggal kami. Saat itu, saya sedang hamil besar anak kedua. Dari sekian sekolah yang kami observasi bersama, kami mendapat dua kandidat. Yang pertama adalah sekolah negeri unggulan, yang kedua adalah sekolah Katolik ternama. Setelah melalui diskusi mendalam, kami bertiga (saya, suami dan si kakak) cenderung menjatuhkan pilihan pada opsi kedua. Alasan utama adalah kualitas pendidikan, jarak, serta lingkungan yang aman dan nyaman untuk belajar. Tentang agama, kakak mantap. Setelah saya Tanya "bagaimana kakak, dengan pelajaran agamanya yang berbeda di sana?" Jawabannya luar biasa. Dia menjawab, "Insya Allah tidak masalah Ibu, Kakak menganggap pelajaran agama di sana sifatnya adalah wawasan, ilmu.". Oke. Kami pun langsung mendaftar dan membayar uang pangkalnya.

Selang beberapa minggu, mendekati bulan Juni. Tiba-tiba saja kakak terlihat galau. Saya tanyakan ada apa. Dia bertanya dengan nada yang agak lemas "Ibu..., kenapa kakak tiba-tiba jadi punya perasaan tidak enak yaa?" "Tidak enak bagaimana Kak?" Tanya saya. "Kakak takut kalau nanti kakak tidak cukup kuat, dan kakak sampai berpindah agama, apa ibu mau menemani kakak?" Jlegaaar... Bagai disambar petir, perasaan saya langsung kacau galau. Seketika itu juga, saya telepon ayah yang sedang di kantor. Akhirnya demi kebaikan semua, kami putuskan untuk tidak memaksakan pilihan tersebut dan berencana untuk kembali menjelajah mencari pilihan lain. Uang sekian juta, kandasss... Dan untuk mencari pilihan baru, ternyata tidak mudah. Sampai akhirnya, sudah awal Juni, kami mendapat dua informasi dalam waktu hamper bersamaan. Pertama, telah dibangun sebuah sekolah alam di lokasi yang tidak jauh dari lokasi sekolah Katolik yang kami batalkan. Kedua, ada sebuah sekolah nasional plus yang lokasinya Alhamdulillah, lumayan jauh. 8 km dari rumah. Haduuh... tidak tega sebenarnya.

Tapi survey tetap kami lakukan. Pertama Sekolah Alam. Alhamdulillaah... kakak suka sekali. Dan sesuai dengan idealism saya yang nature-oriented. Cocok. Lalu sekolah kedua. Sekolah nasional plus. SD Nasional Satu (Nassa). Kakak juga suka. Alhamdulillah. Kami pun menyerahkan pilihan kepada kakak. Dia bingung. Katanya, sekolah alam suasananya enak. Sementara Nassa, suasana belajarnya enak. Haaa... kami jadi ikut bingung deh.

Akhirnya, saya ingat, waktu TK B, kak Dhyani pernah ikut tes psikologi. Saya coba menghubugi pelaksana tes waktu itu, Bapak Wahyono, S.Psi.  Saya tanyakan, apakah dari hasil tes waktu itu dapat dilakukan analisis untuk membantu mencari kriteria Sekolah Dasar yang sesuai dengan segala aspek karakter dan potensi anak. Ternyata bias. Oh, Thanks God! Akhirnya, via sms kami diberi arahan berdasar hasil tes yang pernah dilakukan. Kami disarankan mencari sekolah dengan kriteria: 1. Jumlah siswa maksimal 30 dalam satu kelas, dengan 2 guru. 2. Sekolah menyediakan berbagai wahana pengembangan potensi berupa kegiatan ekstra kurikuler untuk menyalurkan potensi yang dimiliki. 3. Suasana belajar yang terbuka, dua arah, dan bisa mengakomodasi sikap anak yang kritis.

Sementara, saya juga meminta second opinion (kayak berobat aja, hehe...) kepada seorang sahabat yang kebetulan seorang konsultan pendidikan. Pendapatnya berseberangan dengan psikolog. Dia menyarankan pilih sekolah alam. Jiaah... malah tambah bingung. Dan tanpa kami sadari, pembicaraan kami didengar oleh si kakak yang memahami kami cukup galau. Dia pun spontan bertutur "Di antara mereka berdua, mana yang ibu anggap lebih berpengalaman?" Gubraak... Malah kena deh. Akhirnya, karena keesokan paginya adalah hari terakhir batas pendaftaran siswa di salah satu pilihan, maka kami harus segera memilih. Kami pun akhirnya mempertimbangkan jam terbang sekolah sebagai dasar. Karena Nassa sudah berdiri sejak tahun 1984, sementara ketika itu sekolah alam baru tahun pertama, kami memilih Nassa. Dan setelah kami survey lebih dalam, semua kriteria yang diberikan psikolog, semua terpenuhi di sana. Alhamdulillah, galau pun berakhir.

Kini, kakak sudah di duduk di kelas 5. Setiap saat, kami tak lupa menanyakan apakah dia senang sekolah di sana. Jawabannya sangat memuaskan. Dan kami juga melihat dari perkembangan segala aspek yang dapat kami lihat. Dia mendapat teman-teman yang cukup baik untuk menumbuhkan integritasnya. Secara akademik, juga Alhamdulillah, semua berjalan wajar. Prestasi baik, tak juga berlebihan.

Sekilas tentang SD Nassa.
Sekolah ini adalah sekolah yang bermotto "Exploring Better Off". Setiap anak dihargai secara individu sesuai kekuatannya masing-masing. Secara rutin, sekolah mengadakan kegiatan "aksi" atau ajang kreasi, yang bertujuan menampilkan potensi anak sesuai bakatnya masing-masing. Dalam acara tersebut, seluruh orangtua diharapkan hadir. Tentu ini membuat anak-anak merasa senang, bangga, karena merasa dirinya diterima dan diakui sepenuhnya. Dalam penyampaian materi akademik, sekolah ini senantiasa melakukan pengembangan, di antaranya penerapan mind mapping dan visualisasi, serta auditori (lagu yang mereka ciptakan sendiri). Kegiatan ekstrakurikulernya juga beragam. Ada Seni Lukis, Paduan Suara (Gita Swara Nassa/GSN), Taekwondo, Teater, Paskibra, Futsal. Ohya. Jenjang pendidikan formal mulai dari TK, SD, SMP dan SMA.

Kak Dhyani memilih dua kegiatan pada awalnya, yaitu Seni Lukis dan Paduan Suara. Belakangan, karena cukup melelahkan, ia memfokuskan diri di Padus. Sebuah pengalaman berharga ia dapatkan ketika ia hampir terpilih dalam sebuah event internasional di Ghuang Zou. Audisi kesatu sampai ketiga lulus. Sayang, pada audisi terakhir, dimana saat itu ada dua orang peserta termuda, Dhyani dan Rassya, Dhyani gugur. Kakak sedikit kecewa. Tapi ada kelegaan di balik kesedihan saya waktu itu. Dan menjadi kesempatan indah bagi saya untuk menunjukkan kepada kakak, bahwa kami sangat menyayanginya. Terpilih atau tidak, kami tetap bangga padanya. Dan kami sampaikan padanya bahwa kakak sudah berhasil dalam dua hal. dalam berjuang, dan dalam menerima kegagalan. itu super. Dan kalimat-kalimat itu cukup mengobatinya. Momen itu juga sekaligus menjadi kesempatan bagi kakak untuk belajar bahwa seperti itulah seleksi yang professional. Dan hampir dalam setiap kompetisi internasional, Alhamdulillah GSN mendapat penghargaan emas. Jadi kita harus menghargai profesionalisme Kace (Kak Charles, pembimbing GSN) dalam event ini. Kakak pun memahami.

Bagi kami, kakak mau ikut Paduan Suara saja sudah merupakan kemajuan besar. Saya ingat betul, saat TK, Dhyani tidak pernah mau kalau diminta menyanyi. apalagi bila harus tampil di depan kelas. Paling tidak suka kalau jadi pusat perhatian. Oleh karena itu,wajar ketika ia gemetar saat audisi di depan audience yang berjumlah besar  Ditambah lagi, lagu yang harus ia kuasai, cukup berat. Kami saja tak mampu mengajarkannya di rumah. Lagu Scarborough Fair, dimana kakak mendapat suara alto. Kami pun menyerah saat diminta memainkan lagu itu di rumah dengan keyboard. Walhasil, kakak pun mendapat pelajaran yang sangat berharga dari pengalaman ini. Dan yang sngguh tak saya duga, adalah selang beberapa bulan kemudian, dia malah meminta les vocal.

Hari itu, sepulang mengantar sang adik yang les music di Purwacaraka Cibubur, kami melewati sebuah sekolah vocal bernama KBL (Karunia Bersama Lucky). Di depan terpasang spanduk bertuliskan "Free Trial". Kakak spontan minta. Kami coba mengantarnya trial. Saat itu ia dikenalkan dengan seorang guru bernama Stefany, dipanggil Miss Fanny. Langsung cocok. Saya tawarkan opsi beberapa kelas vocal di sekitar sana, dia bahkan tak tertarik. sudah jatuh hati rupanya pada sang guru.Dan dalam keadaan tak cukup longgar, kami upayakan agar kakak tetap bisa les di sana.

Sekian bulan berjalan. Kira-kira dua bulan sekali, kakak latihan tampil di atas panggung di Mal Ciputra Cibubur. Penampilan pertama, tangan dilipat di depan perut karena tegang. Saya geli melihatnya. Tapi salut kalau mengingat bagaimana dia di masa lalu yang sama sekali tidak suka tampil. Lagu berjudul "Bunda" menjadi pilihan sang guru sebagai lagu pertamanya. Penampilan berikutnya, adalah "Over the Rainbow". Masih sedikit tegang dia di atas panggung. Lumayan tidak melipat tangannya, tapi wajahnya masih terlihat tegang. Tapi Alhamdulillah, terlihat adanya kemajuan. Penampilan ketiga, dia sudah mulai punya keberanian untuk memilih lagunya sendiri. Single "Gift of A Friend" dari Demi Lovato menjadi pilihannya. Penampilan pertama keren. Mungkin karena lagu ini benar-benar pilihannya sehingga ia lebih nyaman dan bernyanyi dari hati. Tapi, berhubung lagunya cukup panjang, ia sempat lupa di tengah-tengah. Untunglah dia tidak trauma. Pada penampilan berikutnya, ia membawa contekan berupa tulisan di tangannya. Hahahaha... dan sukses, lancar.

Awal Bulan April 2014, setelah belajar kurang lebih selama 6 bulan, tibalah saatnya kakak dievaluasi. Tim penilai adalah guru-guru vocal dari sekolah yang sama namun berbeda cabang. Mereka semua berkumpul untuk menjadi komentator layaknya juri pada acara Indonesian Idol. Praktis para siswa menjadi tegang, dan rata-rata tampil tidak sebagus biasanya. Tapi itu justru tidak terjadi pada kakak. Alhamdulillah kakak santai, tenang. Padahal kalau lihat kostumnya, mmmm... paling lucu deh di antara yang lainnya. Casual sekali. Sepatu yang dipakainya saja sepatu yang sudah kumal, tak pernah dicuci, dan rusak pula bagian belakangnya karena terbiasa diinjaknya. Pokoke dia tak peduli apapun nasihat orang. Termasuk gurunya!

Tapi, apa yang terjadi? Pada akhirnya, ternyata penampilan kakak membuat surprise! Dia bernyanyi dengan gaya vokalnya yang meyakinkan, dan semua gaya naturalnya keluar. Tim penilai pun memberi apresiasi yang sangat baik. Mereka pun tak ragu merekomendasi gurunya agar menaikkan levelnya langsung ke middle, tanpa melalui basic 2. Tapi keputusan final belum dikeluarkan. Banyak pertimbangan dari pihak guru.

Dari kisah evaluasi ini, saya mendapat sebuah pelajaran berharga dari kakak. Bahwasannya, "appearance has nothing to do with the performance that is totally dedicated from the heart."

Ini sekilas cerita tentang sekolah kakak, yang sekaligus menjadi sekolah ibunya juga, sekolah kehidupan.

:)



Sunday, January 20, 2013

Anakmu bukanlah dirimu...

Hari ini, saya merasa mendapat pelajaran berharga. Setelah kemarin, dua hari berturut-turut mengadakan acara di luar rumah yang cukup melelahkan. Layaknya anak-anak, wajarlah bila anak berusia 4 tahun merasa bosan, capek sehingga menjadi rewel. Tapi itu tidak terjadi pada anak saya. Saya jadi ingat sebuah pengalaman yang sampai sekarang sulit saya lupakan.

Damar, anak saya yang berusia 4 tahun mengalami tantrum di rumah salah seorang sahabat saya. Sungguh tak bisa dipercaya. mendengar kata tanrtrum saja bagi saya adalah hal yang asing. Sejauh pengalaman saya, kedua aak saya begitu kooperatif. Tapi kejadian kali itu sungguh luar biasa. Dan saya merasa sangat tertegur oleh pengalaman ini. Saya akui, saat itu saya salah. Karena sebenarnya saya tahu ia tidak merasa nyaman dan jenuh menunggu saya, dan dia juga merasa takut akan sesuatu di sana. Tapi saya mencoba membuatnya menikmati suasana dengan bermain bersama kakaknya dan anak sahabat saya. Ternyata tidak. Yang saya rasakan justru dia seperti terpaksa. Tampak ia tidak merasakan kemistri lingkungan itu. Tanpa saya sadari, ketidak nyamanan ini akhirnya "terobati" oleh sebuah mainan yang ia temukan di sana. Terlihat ketika saya mengajaknya pamit karena merasa kepentingan saya sudah selesai. Ia tidak rela melepaskan benda yang dipegangnya. Walau saya berusaha membujuknya perlahan, namun ia tetap bersikeras memegangnya, bahkan semakin keras. Ledakan tangispun tak terhindarkan, bahkan cukup lama tidak berhenti. Walhasil saya harus menunggu lama sampai perasaannya benar-benar netral dan ia mau melepaskan benda tersebut.

Aneh saya pikir. Di sebuah rumah yang suasananya begitu tenang, nyaman, dengan penghuni yang hangat, saya pikir menjamin ketenteraman perasaan anak saya. Ternyata saya salah. Yang terjadi adalah asumsi saya telah membuat saya mengabaikan jiwa eksplorasi dan titik-titik sensitif pada dirinya yang membuat emosinya menjadi terganggu. Saat sensitivitasnya bekerja, ia mungkin ingin ibunya memeluknya. Tapi itu tidak saya lakukan lantaran saya kurang fokus padanya sehingga tidak seratus persen tanggap pada kebutuhannya.

Akhirnya saya sadari ini ketika saya membawanya ke sebuah acara yang durasinya cukup lama. Saya pikir acara tersebut akan membosankan dan melelahkan baginya, namun ternyata jangankan tantrum. Rewel pun tidak! Asyik, seperti biasanya. Namun memang saya mencoba lebih fokus kepadanya (walau saya juga sambil berkegiatan). Bagusnya, lingkungan juga mengerti sekali akan kebutuhan saya untuk tetap fokus pada anak saya. Optimal! Hanya perlu kesediaan kita untuk fokus memberi perhatian sehingga ia terlihat menikmati suasana meski terkadang harus terpisah dari saya. Dia dengan mudahnya bergabung dengan teman-teman barunya. Padahal saya sendiri tidak tahu siapa orangtua mereka karena orang yang hadir begitu banyak di acara itu.

Dari sini saya juga dapat sebuah pelajaran berharga. Bahwa apa yang menurut kita paling baik, paling ideal bagi anak kita ternyata belum tentu dapat memenuhi apa yang ia butuhkan. Belajar mengenali ekspektasi diri manakala hal ini belum tentu pas jika kita pasangkan pada jiwa anak kita. Dan jika kita tahu apa yang ia butuhkan, then everything comes easily... bukan hanya kooperatif, bahkan lebih dari itu. mereka memberi kita energi ekstra! Awesome...! Anak kita bukanlah diri kita. Mereka memiliki jiwanya sendiri, yang memerlukan ruangnya sendiri walau tetap berada dalam jangkauan mata kita...

Monday, November 26, 2012

motherhood journey

menjadi ibu bukanlah pekerjaan mudah. akan selalu ada rintangan. jalan terjal dan berliku.

namun di balik setiap rintangan yang kita hadapi, ternyata kita bisa mengambil hikmah yang besar, jika kita bisa memaknainya dengan benar.

menjadi ibu, menunjukkan hati kita melihat dan merasakan keindahan yang tak bisa dilihat oleh orang lain. tak bisa pula dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga.

di saat orang lain melihat kegelapan, maka kita akan melihat cahaya. 

di setiap momen yang membuat kita merasa benar-benar tak berdaya, di sanalah kita dapat menemukan mutiara kehidupan yang tak ternilai harganya.

kuncinya adalah, mendekatkan diri dengan Sang Khalik. memperbanyak refleksi atau perenungan dan bertanya kepada diri sendiri, berdialog dengan hati. di sanalah akan kita temukan petunjuk dan kekuatan yang teramat dahsyat.

it's never too late to learn...

menjadi orangtua ternyata jelas membutuhkan kekuatan dan ketangguhan yang tidak mudah didapat. harus melalui berbagai trial and errors...

rasanya, sudah melakukan yang terbaik (menurut kitaaa...)

tapi, pada kenyataannya, hasilnya belum tentu sesuai harapan ya... adaaaa aja, yang dirasa tidak pas dengan harapan. yang ada, malah membuat perasaan bersalah, atau bahkan gagal.

di sini ini ternyata tantangannya jadi orangtua...

ada memang orangtua yang beruntung... namun tak jarang yang hanya "beruntung"...

ketika kita merasa luluh lantak memperjuangkan agar anak kita selalu dalam rengkuhan, di saat itulah sang waktu sedang menguji. seberapa besar keyakinan dan cinta yang kita miliki.

pada akhirnya, siapa barangsiapa yang menjalani perjuangan berat, mengarungi gelombang hingga karam lalu jatuh bangun dan terseok dan berhasil melaluinya, maka sesungguhnya dialah yang cintanya telah teruji.

jadi, jangan pernah ada kata menyerah. selama ada keyakinan dan cinta, di sana selalu ada harapan.

#solusi galau saat diri sendiri menghadapi masa-masa berat...